2 Januari 2021 - Hari kedua di tahun baru ini, Saya awali dengan sowan dan berdiskusi dengan Om KW, salah seorang yang berpengaruh dalam k...

 

Om KW, Uni Ade, dan Saya

2 Januari 2021 -

Hari kedua di tahun baru ini, Saya awali dengan sowan dan berdiskusi dengan Om KW, salah seorang yang berpengaruh dalam kehidupan saya, terutama menulis.

Sebelumnya, saya berkunjung ke rumah Uni Ade, salah seorang penggerak pariwisata Sumbar dan bergerak di bidang Tour and Travel. Tahun ini saya memantapkan diri untuk berbisnis dan bekerja sama dengan Uni Ade dalam bidang usaha frozen food yaitu Ikan Dori. 

Nah, untuk cerita usaha ikan Dori ini nanti saya buatkan ceritanya khusus ya #SobatPena.

Setelah melihat freezer untuk ikan Dori ini di SJS yang berada di daerah Lapai, maka kami berdua menyempatkan singgah ke tempat Om KW. Momen ini saya manfaatkan untuk sowan dan berdiskusi dengan beliau yang saya kenal sejak 2008, saat pertama kali terjun ke dunia Jurnalistik sebagai Reporter Sekolah P'mails (Padang Media Intelektual Siswa) yang merupakan suplemen atau majalah sekolah bonus dihari minggu di Padang Ekspres (Jawa Pos Group).

Di Sana, ternyata Om KW tengah menyiapkan media anak muda dengan konsep milenial, KETIKA Media namanya. Kantornya, ternyata baru pindah di sebuah perumahan mewah di daerah Lapai atau sebelum Simpang Tinju.

Selain buku-buku, saya juga melihat ada studio musik yang telah berjalan untuk melakukan proses kreatif di bidang musik. Hal ini ternyata dimanfaatkan langsung oleh Uni Ade untuk merekam cover lagu Minang dan kami pun bernyanyi lah di sana.

Pertemuan singkat tersebut adalah kesempatan bagi saya untuk berdiskusi dan bercerita beberapa hal dengan Om KW dan Uni Ade. Menarik dan penuh canda tawa tentunya.

 Meet People Meet Future kembali menjadi makna tersendiri bagi saya untuk selalu ingin bertemu banyak orang dan menemukan masa depan yang lebih baik.

Salam,

#CatatanAdeSuhendra

  1 Januari 2021 - Ini adalah hari pertama di tahun baru. Tentunya segala harapan mulai beterbangan seiring deras ombak di bibir pantai. Tah...

 

Meet People Meet Future

1 Januari 2021 -

Ini adalah hari pertama di tahun baru. Tentunya segala harapan mulai beterbangan seiring deras ombak di bibir pantai. Tahun lalu, 2020 menjadi tahun istimewa bagi semua orang. Termasuk Saya sendiri, menetap di Yogyakarta dan ternyata kembali ke Payakumbuh serta Padang.

Tahun 2020 adalah momen refleksi diri, banyak hal yang sebetulnya bisa menjadi pelajaran. Tahun Pandemi ini mengharuskan kita semua kembali ke rumah, menjaga kebersihan dan kesehatan, menjaga diri dan keinginan, serta menjaga hal-hal yang selama ini diabaikan. Tahun 2020 ini mengajarkan kita semua untuk patuh, taat, dan berjalan sesuai arahan alias on the rules.

Beranjak ke tahun 2021, tentunya menjadi tahun yang tidak mudah. Sebab segala harapan tertumpu dan tertuang di tahun ini. Semua Yang tertunda juga diharapkan terlaksana di 2021. Tidak mudah bukan, tapi itulah yang menjadi harapan kita semua.

Tahun 2021 juga menjadi tahun pengharapan untuk masa depan yang lebih baik. Terutama bagi saya, tahun ini menjadi tahun ketiga dalam berumah tangga, tahun kedua untuk kehadiran putri pertama kami, dan tahun 2021 ini menjadi tahun pertama bagi saya membuka usaha makanan beku (frozen food).

Nah, untuk usaha frozen food ini saya namakan Aruna Frozen Food. Nama ini diambil dari nama awal putri pertama saya yaitu Aruna Nirvana Suhendra. 

Kemudian di tahun ini semoga menjadi tahun pertemuan dengan banyak orang. Pertemuan yang tentunya diharapkan mengantarkan kepada masa depan yang lebih baik. Sebagaimana tagline saya di #CatatanAdeSuhendra, Meet People Meet Future.

Bismillah di tahun 2021

Alhamdulillah untuk tahun 2020

Terima kasih, Tuhan. Atas nikmat dan kesempatan yang telah diberikan kepada saya.

Salam,

#CatatanAdeSuhendra

~ Hari-hari terakhir bersama, Mas Tommy ~ Siang itu, salah seorang aktifis Jogja, Mas Wahyu dari Indonesian Court Monitoring (ICM) ber...


~ Hari-hari terakhir bersama, Mas Tommy ~

Siang itu, salah seorang aktifis Jogja, Mas Wahyu dari Indonesian Court Monitoring (ICM) bertanya kepada Saya.

"Bagaimana kabar Tommy?" katanya usai gelar aksi di depan Gedung Agung Yogyakarta menuju Kantos Pos Besar.

"Lho, Saya tidak tahu Mas. Di Grup Mas Tommy gak ada kasih info apa-apa. Teman-teman lain juga gak ada yang tahu sepertinya," jawab Saya sambil cek grup WA dan cek medsos.

"Ini, beberapa jam lalu Tommy posting habis keluar Rumah Sakit," kata Mas Wahyu.

Langsung Saya cek Facebooknya Mas dan benar, sebuah unggahan memperlihatkan dirinya tengah terbaring di atas tempat tidur rumah saki.

Dalam postingan tersebut, ia menuliskan "Empat hari lebih terkapar. Akhirnya diperbolehkan pecicilan lagi sama dokter. Terima kasih doanya kawan-kawan".

Saya pun langsung skrinsut dan kirim ke grup WA. Ternyata benar, kawan-kawan yang lain banyak tidak tahu. Dan mulailah ucapan doa dan nasehat untuk beristirahat serta jaga kondisi dituliskan kawan-kawan yang lain.

Dua hari kemudian, secara tiba-tiba Mas Tommy mengajak pengurus AJI Jogja untuk rapat, Rabu 29 Januari 2020 sekitar pukul 13.00 WIB. Namun karena bentrok dengan agenda lain, Saya akhirnya terlambat beberapa jam dan akhirnya sore rapat di mulai.

Saya melihat kondisi Mas Tommy memang sudah lelah, matanya sayu, bergerak pun agak lambat. Duduk pun ia harus seperti menahan badannya. Saat itu, dia juga tidak banyak ngobrol dan tiap tatapannya juga memandang agak lama kepada orang-orang yang dilihatnya.

Sayangnya, Saya tidak bisa menangkap bahwa itu adalah tanda kalau dia akan pergi untuk selamanya. T_T

Singkat cerita, rapat berlangsung tidak lama setelah beberapa divisi menjelaskan program yang telah berjalan, kendalanya, apa yang akan dilakukan ke depannya selesai disampaikan per divisi. Ia pun memutuskan untuk pulang sendiri, bawa mobil sendiri, dan memang pamit begitu saja untuk istirahat.

-I-

Dua hari kemudian, Jumat 31 Januari 2020 malam.
Saya membaca pesan WA di grup dari Mustaqim, anggota AJI Jogja dan tetangga Mas Tommy. Ia menuliskan bahwa Mas Tommy dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Beberapa kawan-kawan pun merespon dengan menanyakan penyebabnya, kapan masuk rumah sakit, doa dan ucapan lekas sembuh juga dituliskan dalam grup WA.

Tapi salah seorang anggota AJI, Kakak April menanyakan tentang siapa yang mau membesuk malam itu juga. Entah kenapa, Saya yang di rumah bersama istri dan anak menjawab "Saya bisa ke sana". Malam itu pun Saya bersama Kakak April berangkat menuju rumah sakit dan tidak mempedulikan apakah bisa masuk atau tidak karena memang sudah malam.

Kami sempat salah rumah sakit karena kami datang ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ternyata lokasinya di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Sampai di sana, kami menanyakan ruangan Mas Tommy dirawat dan terus masuk sampai ke depan pintu kamarnya di Ruang Zaitun Lantai 4 No 341.

Biasanya, kalau di RS jam malam sekitar pukul 22.30 WIB tidak boleh berkunjung. Tapi malam itu, seolah kami dipermudah dan diberi jalan untuk masuk dan bertemu dengan Mas Tommy dan istrinya yang berada di ruangan tersebut.

Dengan hati-hati, kami masuk dan bercerita dengan istrinya tentang sakit Mas Tommy dan bagaimana kondisinya. Kata istrinya, gulanya sampai 500-an, ada infeksi yang belum diketahui dan akan diperiksa besoknya.

Jam telah menunjukkan pukul 23.00 WIB, kami pun pamit. Tapi sebelum pulang, Kakak April minta berfoto dengan Mas Tommy yang sedari tadi berbaring di atas tempat tidur. Sebelum di foto, ternyata Mas Tommy bangun dan menoleh sambil tersenyum, berpose ingin berfoto. Jepret, Jepret, dua foto Saya ambil menggunakan HP Saya. Kami pun pulang dan bersalaman ala Mas Tommy yaitu 'Tos' dengannya.

-II-

Dua hari kemudian lagi, 2 Februari 2020 sekitar pukul 10.30 pagi, pesan dari Mba Sinta masuk ke grup WA dan mengabarkan kalau Mas Tommy dipindahkan ke ICU.

Saat itu Saya baru sampai di rumah (Purwomartani) setelah sebelumnya ke Alun-alun Utara bersama istri dan anak. Membaca WA tersebut, Saya pun berkeinginan kembali ke rumah sakit untuk bisa hadir di sana. Tapi Saya ingin beristirahat sebentar sambil melepas lelah berkendara.

Tidak berselang beberapa waktu, telepon kecil Saya berdering. Oh, ternyata dari Bang Andika di Padang. Awalnya Saya mengira ada tugas liputan yang akan diberikan kepada Saya. Atau hal lain terkait pekerjaan Saya di Padang.

Ternyata, dengan nada yang sangat jelas dia bertanya.
"Dek a Tommy, De?",
"Sakik Bang, nyo dirawat di rumah sakik. Patang tu kabanyo gulonyo naiak".

Ia pun menimpal kembali kalimatnya, "tu di grup lah maningga".
Saya pun terkejut dan memang belum melihat WA karena mencoba berbaring sebentar sebelum berangkat ke sana. "Haa? Ma lo. Tadi baru dipindahan ka ICU."

Saya pun mencoba mengecek kebenarannya dan memang. Innalillahi wa inna illaihi rajiun.
Mba Sinta mengabarkan bahwa Mas Tommy barusan meninggal dunia.

Tanpa pikir panjang, Saya pun mematikan telepon dan bergegas mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit. Sampai di sana, kawan-kawan lain sudah di lokasi, istri dan ibunya Mas Tommy juga di sana. Saya pun tidak bisa berkata apa-apa karena baru beberapa hari lalu menjenguk dan hari itu harus menerima kalau Mas Tommy telah pergi untuk selamanya.

-"-

~ Mas Tommy adalah Sosok Jurnalis Pejuang Suara Rakyat dan Seorang Pemimpin ~

Saya mengenal Mas Tommy tidak begitu lama. Baru sekitar 6 bulan lalu, sejak Agustus 2019 karena pindah sementara ke Yogyakarta.

Sebelumnya, Saya mengenal Mas Tommy dan mendengar kabar kalau ia adalah seorang Jurnalis yang intens menulis tentang isu lingkungan. Dia juga intens menyuarakan suara rakyat yang tertindas, khususnya di kawasan tambang, proyek pembangunan yang merugikan rakyat, dan daerah-daerah di Indonesia yang terlibat konflik lingkungan.

Pertama kali bertemu, Saat AJI Yogyakarta menggelar Rapat Kerja Pengurus di masa kepemimpinannya. Di sanalah Saya bertemu banyak anggota dan pengurus AJI Jogja yang lainnya.

Pertemuan kedua, saat adanya workshop tentang energi terbarukan yang berlangsung di daerah Demangan. Walaupun tergolong baru dan masih 'mentah' di Jogja, Mas Tommy memberikan Saya kesempatan untuk hadir di pertemuan tersebut.

Hal tersebut terus berlanjut di beberapa kesempatan yang mana ia selalu memberikan kepercayaan kepada Saya untuk ikut. Tidak hanya itu, aksi Gejayan Memanggil Saya juga hadir bersamanya dan kawan-kawan AJI yang lain.

Sampai terakhir kali saat dia mengisi acara di PP Muhammadiyah Pusat dan saya mengabadikannya dan dibagikan ke grup WA.

Bagi Saya, dia adalah salah seorang panutan dalam dunia jurnalisme. Idealisnya, keberaniannya, dan kepemimpinannya dalam memimpin organisasi jurnalis sekelas AJI Yogyakarta. Pernah dalam hati saya berkata, kalau nanti waktu kongres dia dicalonkan, Saya pasti akan memilihnya.

Namun kini hanya doa yang bisa disampaikan dan semoga ia tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sii-NYA. Aamiin.

Terakhir, beberapa poin dan keinginan Mas Tommy yang masih teringat adalah; meramaikan kembali Sekretariat AJI Yogya dengan kehadiran anggota-anggota AJI Jogja, hadir di Kongres AJI Indonesia bersama-sama dengan seluruh pengurus dan anggota AJI Yogyakarta ke Palembang menggunakan bus, memberikan peningkatan kapasitas kepada anggota AJI Jogja (ini dibahas saat rapat terakhir bersamanya Rabu 29 Januari 2020), dan menyelesaikan Porgram bersama OSF yang belum dikerjakan tapi sudah ditinggalkannya T_T

#AlFatihah

Salam,
Catatan Ade Suhendra

Uda Alfi (kanan) tengah berbincang dengan salah seorang pengunjung dalam Pameran Tunggalnya berjudul FootNote Tadi pagi, Saya melihat ...

Uda Alfi (kanan) tengah berbincang dengan salah seorang pengunjung dalam Pameran Tunggalnya berjudul FootNote
Tadi pagi, Saya melihat poster bertuliskan FootNote, Pameran Tunggal seniman Jumaldi Alfi di SaRang Buildings #1 yang beralamat di Kalipakis RT 05/II Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogjakarta. Pameran ini sendiri dibuka pada pukul 17.00 WIB.

"Aduh, waktunya mepet sekali. Kebetulan sore hari Saya harus ke Lapangan Yogyakarta International School (YIS) untuk liputan latihan perdana PS Sleman bersama pelatih barunya Eduardo Perez Moran," ujar Saya dalam hati.

Dalam postingan poster informasi tersebut Saya membalas dikolom komentar kalau Saya bisa hadir dan mohon maaf terlambat. Dan memang akhirnya Saya terlambat. Sekitar pukul 18.00 WIB Saya sampai di SaRang. Kedatangan kali ini merupakan kali keempat, tapi baru sekarang bisa masuk ke dalam galeri dan ruang pamerannya.

Bagi kawan-kawan yang pertama kali ke sini, atau tidak mengetahui SaRang Buildings ini mungkin tidak menyangka kalau tampak depan dengan tampak di dalam itu sangat berbeda. Benar kata pepatah, jangan menilai orang hanya dari luarnya saja.

Sampai di SaRang Buildings Saya langsung masuk ke dalam dan tidak lupa mengisi buku tamu. Biasanya Saya mengisi asal Saya dari #SudutPayakumbuh. Tapi tadi karena tidak ada ditanyakan asal maka alamat email Saya isikan email Sudut Payakumbuh. Tujuannya adalah, biar orang tahu Sudut Payakumbuh dan khususnya Kota Payakumbuh, salah satu kota kecil yang berjarak sekitar 3-4 jam dari Padang, Ibukota Provinsi Sumbar.

Suasana Pameran Tunggal 'FootNote' karya seniman asal Lintau, Tanah Datar Jumaldi Alfi yang berkesenian di Yogyakarta dan memiliki SaRang Buildings, Yogyakarta.
Setelah masuk, Saya bertemu langsung dengan Uda Alfi yang tengah berbicara dengan pengunjung lainnya dan juga terlihat diwawancara oleh kemungkinan jurnalis juga. Ingin rasanya nimbrung, karena memang sejak awal Saya ingin menulis berita pameran ini di media online tempat Saya bekerja saat ini www.inioke.com. Tapi rasanya kurang enak langsung nimbrung, jadi Saya putuskan melihat beberapa karya seni rupa berupa lukisan, patung, dan grafis serta mengambil dokumentasi foto yang juga akan Saya gunakan untuk foto berita nanti.

Kemudian, jelang wawancara dengan Uda Alfi, Saya menelepon Uda Anton Rais Makoginta yang ternyata tengah ngopi di sebelah yaitu Ada Kopi, tempat ngopi yang berada di Kawasan SaRang Buildings #1. Keasyikan ngobrol, apalagi tadi juga bertemu Mas Wahyudin (Saya kurang tahu background, tapi kalau mendengarkan obrolannya, sepertinya ia seorang akademisi atau yang sangat paham tentang seni), Kak Fika (Seniman yang tinggal di Jogja dan berasal dari Payakumbuh, ia merupakan istrinya Uda Anton), dan Uda Desrat Fianda (Seniman Minang juga dan Saya mengetahuinya setelah mendapatkan selebaran Solo Exhibition 'The Meeting' 03.10 - 23.10 2017. Ia ternyata kelahiran Padang Pariaman)

Malamnya, sekitar pukul 21.30 WIB barulah Saya bisa wawancara dengan Uda Alfi dan mendengarkan informasi terkait Pameran Tunggal 'FootNote' ini yang ternyata merupakan 'appetizer' atau dalam sebuah jamuan menurut Uda Alfi adalah sebagai hidangan pembuka. Maksudnya, pameran tersebut merupakan pameran pembuka di tahun 2020 dimana SaRang Buildings yang notabenenya adalah ruang seni atau tempat bagi seniman atau orang-orang berbagi informasi tentang seni atau informasi lainnya.

Setelah wawancara kami pun duduk ngobrol bersama yang lainnya dan juga Mas Butet Kertaradjasa yang dalam kesempatan tersebut. Setelah obrolan panjang, pukul 23.00 WIB kami bubar dan Saya pun harus pulang ke daerah Purwomartani yang jaraknya cukup jauh. Kalau berkendara normal, sekitar 30-45 menit menggunakan kendaraan roda dua atau paling lambat sekitar 1 jam.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya atau bisa juga kunjungi akun Instagram @catatanadesuhendra

1 Januari 2020, hujan membasahi kawasan rumah Saya di daerah Purwomartani, Sleman, DIY. Sejak pagi hingga malam, rintik hujan terus...



1 Januari 2020, hujan membasahi kawasan rumah Saya di daerah Purwomartani, Sleman, DIY. Sejak pagi hingga malam, rintik hujan terus menemani. Padahal Saya bersama istri berencana untuk keluar membeli keperluan dapur untuk memasak makanan. Saya telah mencoba untuk keluar dan mencari tempat menjual kebutuhan dapur menggunakan motor, lengkap dengan mantel hujan dan helm. Namun setelah berkeliling, ternyata banyak yang tidak buka dan kalaupun buka ternyata habis.

Alhasil, Saya pun kembali pulang tanpa membawa bahan makanan. Beruntung, beberapa bungkus mie instan, telur, cabe dari Payakumbuh hasil kiriman orang tua masih ada. Tiba-tiba, Saya ingat bahwa beberapa bulan sebelumnya pernah dikirimkan paket Randang Minang asli Payakumbuh dan Randang Telur oleh Bapak Wakil Walikota Payakumbuh. Oh, Thanks, God.

Harapan untuk makan siang enak terbayang sudah. Saya bergegas membukanya, sebuah kotak ternyata berisi tiga sachetan randang dengan dua macam randang yaitu daging dan jamur. Menurut cara penyajian yang tertera di belakang bungkus sachet randang tertulis bahwa Randang ini dapat langsung dinikmati. Tapi untuk rasa terbaik sebaiknya dihangatkan selama 1 menit menggunakan microwave atau dikukus selama 5 menit. Berhubung Saya baru pindah juga beberapa bulan ini, microwave yang menjadi kebutuhan tambahan belum atau mungkin tidak Saya beli. Jalan satu-satunya adalah dengan menghangatkan menggunakan kompor plus kuali.

Siap menyantap nasi randang daging dan randang jamur. (Dok. Ade Suhendra)
Beberapa menit kemudian, randang jamur dan daging asli Payakumbuh ini pun siap disantap. Saat cek nasi di dapur, alhamdulillah istri tercinta sudah memasaknya dan kebayangkan bagaimana nikmatnya makan randang bersama nasi hangat di tengah rintik-rintik hujan. Hm, rasanya seperti makan di rumah sendiri yang ada di Kampung (Payakumbuh). Aroma rendang, tekstur daging dan rasanya sangat berbeda dengan randang yang pernah saya cicipi selama berada di Yogyakarta ini, sekalipun itu berada di rumah makan minang.

Selesai makan, Saya penasaran dengan packaging dari Randang Minang asli Payakumbuh ini. Selain kemasan yang unik dan kekinian, desainnya pun tampak menarik dibandingkan dengan randang yang biasanya. Saya ingat, ternyata ini merupakan inovasi dari Wakil Walikota Payakumbuh Bapak Erwin Yunaz yang memang udah pakar dalam packaging dan kemasan. Kabarnya beliau pernah bekerja dengan perusahaan asing dibidang packaging dan wajar kalau bentuk kemasan randang yang dikirim beliau menarik dan mudah dibawa-bawa apalagi cocok untuk traveler.

Randang sachet ini menurut yang tertulis di bungkusannya bisa sampai tahan 3-4 bulan karena angka yang tertera yaitu pada bulan 16 Oktober 2019 hingga Januari 16 Januari 2020. Artiny, randang yang Saya makan ini umurnya tinggal 15 hari lagi, untungnya sudah dimakan sekarang.

Randang Jamur asli Payakumbuh (Dok. Ade Suhendra)
Kembali mengutip Payakumbuh the City of Randang menurut Wakil Walikota Payakumbuh pada saat deklarasi, Senin 17 Desember 2018 lalu, Kota Payakumbuh memiliki sebanyak 37 Industri Kecil dan Menengah (IKM) rendang yang sudah berproduksi untuk mewujudkan branding Payakumbuh City of Randang.

"Rata-rata produksi setiap IKM mampu menghasilkan 31 Kg rendang per hari, jika dikalkulasikan seluruhnya bisa menghasilkan 1.147 Kg dalam satu hari. Selain itu, beberapa infrastruktur termasuk sarana dan prasarana untuk pengembangan produk rendang susah tersedia di Payakumbuh. Mulai dari rumah potong hewan bertaraf internasional, Gedung Sentra Randang, teknologi retouch, hingga teknologi nuklir dari BATAN untuk pengawetan rendang," katanya.

So, taglinenya "Ingat Randang, Ingat Payakumbuh" sepertinya memang cocok yang Saya rasakan saat ini karena saat makan randang yang dikenal sebagai makanan terenak di dunia versi CNN ini Saya berasa sedang makan di rumah saja. Ah, Payakumbuh. Saya akan kembali lagi nanti. (*)

Randang Minang dari Payakumbuh (Dok. Ade Suhendra)



Catatan Ade Suhendra - Rabu, 6 November 2019 menjadi hari yang cerah di salah satu kota istimewa di Indonesia, Yogyakarta. Terik panas ...



Catatan Ade Suhendra - Rabu, 6 November 2019 menjadi hari yang cerah di salah satu kota istimewa di Indonesia, Yogyakarta. Terik panas matahari cukup kuat menyapa dan menghitamkan kacamata Saya yang memakai lensa transitions.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan Saya untuk pergi bersama rombongan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta seperti Mas Tommy, Mba Sinta, Mba April, Mas Rimba, Mas Zaki, dan Mas April menuju daerah Kulon Progo. Tujuannya adalah mengunjungi salah satu lokasi Pelestari Mangrove dan Pesisir Wana Tirta.



Untuk menuju kesana, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam atau lebih kurang 9 menit dari Kota Yogayakarta. Lokasi Pelestari Mangrove dan Pesisir Wana Tirta ini sendiri berada di Dusun Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kulon Progo, DIY.

Sebelum sampai di lokasi Wana Tirta, Saya berkesempatan melihat Kawasan Yogyakarta International Airport (YIA) yang kabarnya masih terjadi penolakan oleh warga setempat terkait keberadaannya. Namun tentunya dalam tulisan ini Saya tidak menyentuh bagian tersebut dan hanya fokus kepada Piknik Ceria AJI Yogyakarta dimana Saya dapat belajar tentang Mangrove di Wana Tirta.



Jujur, Saya sebelumnya tidak terlalu mengetahui Mangrove ini secara khusus baik itu jenisnya, manfaatnya, dan hal baik yang ternyata banyak manfaatnya. Salah satunya menurut Mas April, pegiat organisasi non-pemerintah Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan mengatakan adalah untuk penahan bencana alam, seperti tsunami.

Menurutnya, secara ideal yang dapat menahan tsunami adalah adanya padang lamun, terumbu karang, dan mangrove. Namun setelah berkunjung ke Dusun Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kulon Progo, atau Wana Tirta ini ternyata Triangle ini berupa gumuk pasir, sungai Pasir Mendit, dan mangrove.

Ia pun menegaskan bahwa ketiga komponen ini harus dipertahankan untuk mitigasi bencana. Selain itu, hasil googling terkait manfaat mangrove Saya menemukan manfaat lainnya yaitu dapat mencegah intrusi air laut yang berarti peristiwa perembesan air laut ke tanah daratan.

Kemudian mencegah erosi dan abrasi pantai, sebagai penyaring alami dimana tanaman mangrove dipenuhi oleh akar pohon bakau dan berlumpur. Dan akar tersebut, dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai serta penghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.



Mangrove juga bermanfaat sebagai tempat hidup satwa dan berperan dalam pembentukan pulau. Sementara itu, dalam perjalanan pertama sejak memutuskan pindah ke Yogyakarta ini, Saya juga dapat mengetahui beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora dan Sonneratia.

Satu lagi, yang paling berkesan adalah saat bertemu dengan Bapak Warso, Ketua Pelestari Mangrove dan Pesisir Wana Tirta di rumahnya yang merupakan Sekretariat Wana Tirta. Dalam kesempatan tersebut ia menceritakan bagaimana perjuangannya sejak beberapa tahun lalu mulai menanam tanaman mangrove ini dan mendapat cemoohan dari warga yang mungkin menganggapnya gila.



Tapi berkat kegigihan dan keuletannya, pada tahun 2016 ia berhasil menciptakan spot destinasi wisata mangrove yang cukup terkenal. Perhari dikatakannya seribu pengunjung datang untuk menikmati suasana hutan mangrove dan mengabadikannya dengan berswafoto.

Ia pun beberapa kali mendapatkan beberapa penghargaan sebagai orang yang peduli lingkungan atau penerima kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup. Namun sayang, di tahun 2017 mulai muncul kawasan mangrove lainnya di sekitar Wana Tirta dan mencoba 'bermain' dalam menggaet pengunjung.



Akibatnya, Kawasan Pelestari Mangrove dan Pesisir Wana Tirta ini mulai ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian. Berbagai kemelut terjadi dan saat ini Pak Warso mengatakan akan kembali membenahi Wana Tirta dan lebih mengarahkannya kepada Wisata Edukasi Mangrove.

Nah, untuk teman-teman yang ingin tahu banyak tentang mangrove, baik itu pengelolaannya, jenisnya, dan hal lainnya dapat langsung aja berkunjung ke Taman Mangrove Wana Tirta di Dusun Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kulon Progo.



Sekian dulu #CatatanAdeSuhendra pada perjalanan kali ini dan sampai jumpa di tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat dan jangan lupa bahagia ya. (*)



Tuhan, adalah judul puisi Saya di tahun 2008 yang mengantarkan Saya terjun bebas ke dunia Jurnalistik. April 2008, pertama kali menginjakka...

Tuhan, adalah judul puisi Saya di tahun 2008 yang mengantarkan Saya terjun bebas ke dunia Jurnalistik.

April 2008, pertama kali menginjakkan kaki ke Ibukota Sumatra Barat, Padang sendiri. Itulah awal mula hingga saat ini Saya masih menekuni dunia jurnalistik yang seperti candu tidak berkesudahan.

Saya mengenal 5 W + 1 H dari orang-orang luar biasa, sebut saja Om KW (Yusrizal KW), Abi Firdaus, dan Bang On (S.Metron). Mereka mengajarkan What, Who, Where, When, Why, dan How.

Tapi itu tidak lepas dari peran Guru Bahasa Indonesia Pak Mukhlis Kani dan Kepala SMAN 3 Payakumbuh (alm) Pak Resnulius. Beliau mendorong Saya untuk maju dan terus menggapai keinginan. Meskipun dari sudut kota kecil, tapi dukungan beliau sangat berarti.

Ya, itulah awal mula Saya menjalani hari dengan bertanya, bertemu orang baru, menelusuri lorong-lorong, menyusuri jalanan kota, hingga menembus hutan belantara.

#P'MAILS
Padang Media Intelektual Siswa, sebuah suplemen Koran Padang Ekspres pada waktu itu. Terbit tiap hari Minggu dan menjadi bonus bagi pelanggan Padang Ekspres yang membeli koran.

Berisikan informasi sekolah, siswa, dan kegiatan dunia pendidikan melalui goresan pena dan rangkaian kata-kata 'reporter sekolah'.

April 2008 hingga Januari 2009 adalah hari-hari penting yang membuat Saya sampai dihari ini. Tanpa mereka (guru dan mentor saya) dan kawan-kawan di P'Mails (Borry, Kak Ria, Kak Nilna, Kak Ophie, Kak Icha, Fresti, Dodi, Amel, Ocha, Lily, Reyhana, dll) mungkin Saya hanya menjadi siswa biasa di salah satu dari 19 kabupaten/kota di Sumbar.

Terimakasih, P'Mails.

#PASS Radio
Tempat kedua yang menyalurkan virus broadcast dan membuat Saya berani berbicara. Tanpa bertemu orang dan hanya berbicara sendiri ditemani mesin, layar, mixer, mic dan bertemu orang-orang lewat suara menjadi pengalaman tersendiri.

Meskipun hanya sebentar, tapi kenangan di Radio menjadi cerita-cerita di masa nanti.

#IniOke.Com
Media Online Generasi Muda yang memperkenalkan dunia digital bagi Saya yang awalnya menggantung pena dan lari.
Cukup lama di sini, 2010-2015 adalah pembelajaran paling berharga dalam perjalanan Saya di dunia Jurnalistik.

Om KW, Bang Yono, Kak Ria, Kak Ophie, Kak Nilna, Awin dan kawan-kawan yang pernah singgah membuat gairah kembali merekah. Kota demi kota Saya lalui dan menghabiskan perjalanan Indah di setiap sudut kota.

Tapi, Saya harus meninggalkan ini semua. Untuk terus berjuang melanjutkan perjalanan hingga kembali ke Media yang menyuntikkan virus Jurnalistik saat Saya masih SMA, ya Padang Ekspres.

#Harian Padang Ekspres
Saya kembali lagi tapi dalam situasi berbeda. Tidak lagi 'Reporter Sekolah' tapi telah menjadi 'Reporter (tidak) Sekolah' hehe.

2015 awal, Saya tercatat sebagai Jurnalis di salah satu media jejaring dari Jawa Pos. Bertugas di Ibukota membuat Saya kembali turun ke jalanan, blusukan ke pasar, dan masuki kantor-kantor.

Bertemu dengan orang-orang hebat di keredaksian saat itu, (maaf tidak bisa menyebutkan namanya satu persatu. Nanti ada yang kelupaan bisa celaka) heheh.

Mereka menempa dan mendidik secara nyata 5W+1H. Terimakasih Padang Ekspres, menjadi media yang telah membuat Saya mengenal 'dunia'.

#SudutPayakumbuh
Media Sosial Independen Kreatif yang Saya persiapkan menjadi media masa depan.
Tulisan tentang #SudutPayakumbuh sepertinya bisa membaca di tulisan Saya sebelumnya ūüôĆ

#KlikPositif
Media Generasi Positif, media online kedua yang menjadi sarana bagi Saya terus mendalami dunia media. Ya, hingga saat ini, Saya masih berada di sana dan masih terus belajar, belajar, serta belajar.

Tepat 2018 ini, satu dasawarsa bagi Saya masuk dalam lingkaran 5W+1H.

Ade Suhendra - 2018