Selamat sore, sahabat pembaca. Apa kabarnya di hari Minggu ini? semoga minggu ini menjadi hari yang cerah dan bahagia buat kita semua. Seh...

Saya dan Kegiatan di Kota Padang (Bagian 2)

Selamat sore, sahabat pembaca. Apa kabarnya di hari Minggu ini? semoga minggu ini menjadi hari yang cerah dan bahagia buat kita semua. Sehingga menghadapi Senin kita menjadi lebih bersemangat dan menikmati setiap waktu dengan penuh bersyukur.

Oke, kembali Saya lanjutkan tulisan ini dimana sebelumnya Saya telah menjelaskan sudut pandang Saya tentang salah satu kegiatan kreatif di Kota Padang. Nah, bagaimana dengan Payakumbuh dan Limapuluh Kota?

Tugu Adipura berlatar Shelter Informasi dan Merk Kota Payakumbuh yang terletak di jantung Kota Payakumbuh. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Sebenarnya baik itu di Padang, Payakumbuh, Limapuluh Kota dan daerah lainnya hampir sama. tapi tentu intensitas kegiatan tersebut berbeda. Berbicara Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Saya melihat memang kegiatan anak-anak mudanya, komunitas, dan lainnya jarang. Adapun kegiatan hanya diadakan sekali-kali dan itu kebanyakan dilakukan oleh pemerintah karena merupakan program kerja dinas terkait dan melibatkan anak-anak muda atau komunitas.

Maaf, bukan menganggap komunitas atau anak-anak muda di Payakumbuh dan Limapuluh Kota tidak kreatif atau masih berada di bawah Padang sebagai Ibukota, tapi memang itulah kenyataannya. Namun hal tersebut tidak serta merta disebabkan oleh anak-anak mudanya tapi ada beberapa faktor yang mengakibatkannya.

Beberapa faktor ini saya melihat sama halnya pada tulisan sebelumnya tapi di sini (baca: Payakumbuh dan Limapuluh Kota) merupakan kebalikannya. Pertama sedikitnya komunitas atau anak-anak muda yang berkegiatan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari pola pikir dan keinginan anak-anak muda ini untuk berkegiatan di komunitas dengan menggelar kegiatan.

Merk Kota Payakumbuh di Kawasan Medan Nan Bapaneh, Ngalau Indah, Payakumbuh. (Dokumentasi Ade Suhendra)

Sehingga umpan baliknya terlihat pada kurangnya kegiatan komunitas yang digelar di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Kedua, faktor ini berkaitan pada faktor sebelumnya karena kurang kegiatan maka pemerintah atau pihak swasta jarang yang ikut bersinergi dan mendukung kegiatan komunitas yang ada di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Kalaupun di dukung, bentuk dukungannya hanya seadanya dan tidak sepenuhnya atau maksimal. Akibatnya kegiatan di Kota Payakumbuh dan Limapulh Kota menjadi 'miskin' kreatifitas. Tidak jarang komunitas yang ada di Payakumbuh yang mati dan kalaupun masih ada, keberadaannya antara ada dan tiada.

Melihat fenomena ini, secara pribadi Saya merasa iri dengan daerah lain dan iba melihat daerah sendiri. Tapi apapun itu tidak ada gunanya kalau hanya sekedar berbicara tanpa adanya aksi yang dilakukan. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat memberikan sedikit penyadaran bagi Sahabat Pembaca khususnya anak-anak muda di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Salah satu #sudutpayakumbuh di jantung Kota Payakumbuh. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Bukan berniat menggurui, tapi tulisan ini merupakan keluh kesah yang Saya rasakan selama ini dan semoga dengan adanya tulisan ini nantinya juga membuat kita semua sebagai anak muda dapat mencari jalan keluarnya dan memikirkan bagaimana langkah ke depannya agar keinginan (mungkin pribadi/tidak) ini dapat terlaksana. Sehingga sebagai sebuah daerah yang sedang berkembang, Payakumbuh dan Limapuluh Kota dapat lebih baik ke depannya.

Terimakasih sudah membaca dan nantikan tulisan Saya selanjutnya hanya di sini.

Selamat Membaca!

1 komentar:

  1. Mungkin bang Adek bisa jadi penggerak komunitas di Payakumbuh, haseeeek~

    BalasHapus