Selamat tengah malam, Sahabat Pembaca. Sedikit telat tapi hari ini Saya akan bercerita tentang kegiatan kulineran yang Saya lakukan hari i...

Saya dan Kulineran Hari Ini

Selamat tengah malam, Sahabat Pembaca. Sedikit telat tapi hari ini Saya akan bercerita tentang kegiatan kulineran yang Saya lakukan hari ini dan masih di Kota Padang. Rencananya hari ini sih balik ke Payakumbuh, tapi karena suatu dan lain hal Saya masih berada di kota kenangan ini. Eeh..

Bisa dibilang hari ini kegiatan Saya lebih kepada makan-makan dan mencicipi aneka kuliner yang ada di Padang. Menurut Saya kuliner di Payakumbuh dengan di sini (baca: Padang) tidak jauh tertinggal dan tagline Payakumbuh Wisata Kuliner yang Saya usung bersama Sahabat Saya di #sudutpayakumbuh masih cocok ditujukan kepada Luaklimopuluah.

Foto bersama di depan Kopmil Om Ping di Kawasan Pondok, Padang dengan Admin Info Sumbar dan Host Program Kelana Rasa Arie Parikesit dan Herly Valentina. (Dokumentasi: Ade Suhendra)
Pagi hari jelang siang, Saya bersama teman-teman di Info Sumbar dan Sahabat Saya sekaligus rekan kerja di Sudut Payakumbuh makan pagi bersama di kawasan GOR. H. Agus Salim Padang. Kebetulan rekan kerja Saya ini baru sampai di Padang untuk mengurus salah satu keperluan di #sudutpayakumbuh.

Kami pun menyantap lontong gulai paku (pakis), lontong cubadak (nangka), dan lontong pical (lontong sayur). Semua itu pada umumnya di beberapa daerah jenis kuliner ini masih bisa dijumpai dan dicari, apalagi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Foto bersama di Kawasan GOR H. Agus Salim dengan Admin Info Sumbar feat Admin Sudut Payakumbuh. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Kemudian, tiba-tiba Info Sumbar mendapat tawaran bertemu dengan salah seorang pecinta kuliner nusantara yaitu Arie Parikesit bersama rombongan Trans TV dalam program Kelana Rasa. Sampai di Kawasan Pondok, Saya bersama teman-teman Info Sumbar dan Sudut Payakumbuh berkenalan dengan Arie Parikesit ini yang tengah syuting di salah satu kedai kopi legendaris di Padang yaitu Kedai Kopi Nan Yo.

Setelah bertemu, Saya dan teman-teman pun diajak kulineran di Es Durian Ganti Nan Lamo. Tanpa terpikirkan sebelumnya, ternyata Saya dan teman-teman ikut terlibat dalam proses syuting kuliner yang berlanjut hingga ke Kopmil Om Ping dan diajak makan Nasi Soto di Roda Jaya.

Ups, hampir kelupaan Saya minta maaf kepada Geng Puncak Marajo karena tidak bisa bergabung tadi. Apalagi ikut nimbrung saat nonton XXI, kegiatan hari ini benar-benar di luar dugaan Saya dan mohon maaf atas ketidakhadirannya. (Colek: Bang Der Opin, Hamdi, Jiah dan temannya, Dita dan adiknya, Revi, Putri). Maaf ya :)

Foto bersama Host Program Kelana Rasa Trans TV Arie Parikesit dan Admin Info Sumbar di Roda Jaya, Kawasan Pondok. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Kulineran selanjutnya Saya berdua dengan Rovindo Maisya, sahabat sekaligus rekan di #sudutpayakumbuh, singgah di salah satu distro orang Payakumbuh yaitu Goodwill Store yang terletak di Jalan Proklamasi No.26 Padang atau di daerah Tarandam. Di sini kami menyantap sate kuah merah dan setelah itu lanjut ke salah satu kafe di dekat Taman Melati, Lalito Cafe dan minum kopi serta green tea bersama Cherry Lenggogeni dan Hamdi Halim, masih orang Payakumbuh.

Terakhir malamnya, kulinernya beralih ke daerah Bandar Purus yaitu Malabar, salah satu tempat makan yang cukup dikenal di Kota Padang. Melihat kuliner atau makanan yang dimakan hari ini, pikiran Saya terbang jauh ke kota yang berjarak 3 jam-an dari Ibukota Provinsi Sumbar ini.

Foto bersama di Malabar, Banda Purus dengan Admin Info Sumbar feat Admin Sudut Payakumbuh. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Saya melihat untuk kuliner, sepertinya Payakumbuh lebih memiliki variasi dalam beraneka jenis kuliner khususnya jajanan malam. Kembali tagline Payakumbuh Wisata Kuliner yang coba Saya gaungkan masih pantas disematkan ke Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Di Padang, Saya melihat beberapa tempat makan sudah cukup dikelola dengan baik oleh pemko. Salah satunya yang menarik adalah adanya rekomendasi tempat makan yang dikeluarkan oleh Pemko Padang terhadap lebih kurang 50 an tempat makan. Semua ini tentunya memiliki kriteria dan standarisasi, salah satu contoh setiap tempat makan harus mencantumkan harga setiap makan yang dijual, tempatnya memiliki IMB atau legalitas dalam berusaha di bidang kuliner, dan beberapa persyaratan lain yang menurut Saya itu sangat bagus.

Es Krim Durian Ganti Nan Lamo. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Berbeda dengan Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Saya belum menjumpai hal tersebut atau mungkin selama ini sudah ada dan Saya yang tidak mengetahuinya. Mohon kepada Sahabat Pembaca untuk mengingatkan Saya dengan mengisi komentar di bawah tulisan ini. Dengan adanya rekomendasi atau standarisasi yang ditetapkan pemko/pemkab, pengunjung dapat mengetahui harga dan jumlah makanan untuk nantinya dibayar sesuai dengan apa yang dimakannya.

Sehingga beberapa kasus yang terjadi pada pengunjung di beberapa kota lain yang pernah terjadi dan berdampak terhadap kunjungan wisatawan tidak terjadi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Tidak hanya itu, penataan dan dukungan baik itu berbentuk materil juga masih belum terlihat jelas di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Lontong Gulai Tunjang di Kawasan Stasiun Kereta Api, Simpang Haru, Padang. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Walaupun saat ini Saya melihat pemko sudah mulai mencoba berbuat. Memberikan tanggapan atas apa yang telah dilakukan pemko/pemkab ini sebenarnya membuat Saya agak malas membahasnya mengingat kondisi perpolitikan di Payakumbuh tengah panas. Sebab Payakumbuh menjadi salah satu kota yang menggelar Pilkada di Sumbar selain Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Saya tidak mau nanti tulisan ini dianggap sebagai bentuk aksi anti pemerintah atau dikaitkan dengan politik yang ada di Payakumbuh. Melainkan tujuannya adalah menuangkan pendapat Saya melihat yang ada di luar dan di dalam Payakumbuh, dalam hal ini berkaitan dengan kuliner. 

Kembali ke cerita kulineran tadi, Payakumbuh menurut Saya melihat Luaklimopuluah berpotensi menjadi salah satu kota tujuan wisata tapi lebih kepada kuliner atau makanan yang ada. Namun di sini Saya masih belum melihat gejolak kuliner yang dilakukan oleh industri atau pemerintahan dan swasta dalam memajukan dan mengembangkan kuliner khas atau makanan yang hanya dijumpai di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Martabak Special Malabar di Kawasan Banda Purus, Padang. (Dokumentasi: Ade Suhendra)

Ini lebih Saya tujukan kepada jenis kuliner khas masing-masing daerah atau nagari yang ada di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Menurut Saya, Payakumbuh dan Limapuluh Kota berpotensi di sini, cuma butuh gerakan aksi nyata atau kegiatan yang dapat mendongkrak berkembangnya industri atau promosi makanan khas yang ada di Luaklimopuluah ini.

Ke depannya, Saya berharap Sahabat Pembaca yang memiliki waktu untuk membaca tulisan ini nantinya juga memiliki ide kreatif dalam memajukan Payakumbuh dan Limapuluh Kota khsususnya dalam hal kuliner.

Nah, sepertinya tulisan Saya dan Kulineran Hari Ini sampai di sini mengingat mata yang sudah mengantuk menahan rasa kenyang hari ini. Heheh..

Selamat Membaca!

1 komentar:

  1. wah masuk tivi berarti dong bang? asiiik haha..

    anyway,,, malesin banget kalau masuk tempat makan tapi di daftar menunya gak dicantumin harga.. Tapi kalau mau keluar juga tengsin juga sih :D ... Baiknya emang ada peraturan dari pemda setempat yang mewajibkan setiap pengusaha kuliner untuk mencantumkan harga di menunya..

    BalasHapus